Cacing Sutera Dan Pola Pemberian Pada Bibit Lele Sangkuriang

Cacing sutera (Tubifex sp) ini dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan nama cacing rambut lantaran bentuk tubuhnya yang panjang dan sangat halus seperti rambut. Sampai saat ini cacing sutera menjadi pilihan utama pakan alami bibit lele sangkuriang. Dari sudut pandang yang lain cacing sutera banyak mengandung zat dan bibit penyakit, apalagi banyak mereka yang bergerak dibidang ini hanya mengeruk cacing sutera disaluran air kotor sehingga para pembenih harus lebih teliti dalam Pola pemberian Cacing sutera pada bibit lele sangkuriang.

Penjelasan Mengenai ekologi dan Habitat Cacing Sutera (Tubifex sp)

Cacing sutra (Tubifex sp) umumnya ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat organik secara berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis. Ditambahkan bahwa spesies cacing Tubifex sp ini bisa mentolerir perairan dengan salinitas 10 ppt dan dua faktor yang mendukung habitat hidup cacing sutra (Tubifex sp) ialah endapan lumpur dan tumpukan bahan organik yang banyak.

Setiap tubuh cacing sutra (Tubifex sp) pada bagian punggung dan perut kekar serta ujung bercabang dua tanpa rambut. Sementara sifat hidup cacing sutra (Tubifex sp) menunjukan organisme dasar yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai-lambai dalam air kemudian bergerak berputar-putar.

Habitat dan penyebaran cacing sutra (Tubifex sp) umumnya berada di daerah tropis. Dengan kata lain mereka berada disaluran air atau kubangan dangkal berlumpur yang airnya mengalir perlahan, misalnya selokan tempat mengalirnya limbah dan pemukiman penduduk atau saluran pembuangan limbah peternakan. Selain itu, cacing sutra juga ditemukan di saluran pembuangan kolam, saluran pembuangan limbah sumur atau limbah rumah tangga umumnya kaya akan bahan organik karena bahan organik ini merupakan suplai makanan terbesar bagi cacing sutra (Tubifex sp) *(sumber: Diskanlaut Prov. Jawa Barat)

Pola Pemberian Cacing Sutera Pada Bibit Lele Sangkuriang

Dari penjelasan diatas, dengan kata lain bahwa cacing sutera memberikan sumbangsih penyakit dan kotoran yang akan mempengaruhi kondisi kesehatan bibit lele sangkuriang dan kestabilan kualitas air kolam terutama yang bukan berasal dari pembudidayanya.

Menurut pengalaman dafufarm, pakan alami (cacing sutera *red) yang didatangkan dari pemasok harus dibersihkan dan ditahan didalam bak penampungan dengan sirkulasi air mengunakan pompa dengan rutin melakukan pergantian air agar kotoran-kotoran dalam perutnya bisa keluar. Dengan sirkulasi air tersebut, sumber penyakit dari luar yang terdapat pada kotoran itu tidak dimakan dan mengendap didasar kolam bibit lele sangkuriang.

Cacing sutera dapat ditahan didalam bak penampungan selama 1 x 24 jam dan diberikan ke bibit lele sangkuriang esok harinya. Kendatipun sudah ditahan dan telah bersih, menurut pengalaman kami, ada baiknya pemberian pakan pada bibit dilakukan sedikit demi sedikit. Pemberian pakan yang diatur sesuai porsi habis sehingga tidak menumpuk didasar kolam yang akan mempengaruhi kualitas dan pasokan oksigen pada kolam. Pemberian cacing sutera yang diatur, justru daya konsumsi pakan pada bibit lele semakin rakus dan merata. pemberiannya dapat dilakukan dua kali sehari yakni pada siang hari dan malam hari.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah banyaknya kematian bibit lele sangkuriang dan penyakit dikarenakan bawaan penyakit dari cacing sutera, faktor kebersihan dan tidak diaturnya pola makan bibit lele menjadi sesuatu hal yang penting. Para pembenih juga harus lebih selektif untuk bekerjasama dengan para pemasok untuk memberikan cacing sutera yang sehat. 1 liter dihargai 15.000 s.d 20.000 tidak sebanding dengan puluhan ribu bibit lele sangkuriang yang dibudidayakan. (sumber: pengalaman dafufarm dan media lainnya).